1. Quantity Trumps Quality
Quantity Trumps Quality

 

Kuantitas Mengalahkan Kualitas


  • Wajah baru kerja sama

    Post-it® Brand menawarkan sejumlah alat bantu untuk memaksimalkan pengalaman kolaboratif di antara rekan kerja Anda. Namun demikian, kami mengetahui bahwa kerja sama tidak hanya terbatas pada alat bantu — serta tidak dibatasi oleh beragam teknik yang tersedia. Itulah alasan kami bekerja sama dengan Jeff Gothelf — seorang pembicara dan pemimpin pemikiran mengenai masa depan pengalaman pengguna serta desain — untuk menawarkan pendekatannya mengenai kerja sama serta manfaat yang diperoleh dari berbagi dan & bekerja bersama.


  • Saya menemukan ungkapan berikut dalam blog Derek Silver. Ungkapan tersebut dikutip dari buku berjudul “Art and Fear”:

    “Guru kerajinan keramik saya mengumumkan bahwa dia membagi kelas ke dalam dua kelompok. Semua orang yang berada di sisi kiri studio hanya akan dinilai dari kuantitas pekerjaan mereka, sementara semua yang berada pada sisi kanan dinilai hanya dari kualitasnya.”

    Cara kerjanya sederhana: pada hari terakhir pertemuan kelas, dia akan memberi bobot kelompok “kuantitas”: Pot seberat 50 pon (22,67 kilogram) mendapatkan nilai A, 40 pon (18,14 kilogram) mendapatkan nilai B, dan seterusnya. Akan tetapi, mereka yang berada dalam kelompok “kualitas” hanya perlu membuat satu pot – yang sempurna – untuk mendapatkan nilai A.

    Penilaian pun dilakukan, dan fakta mengejutkan terkuak: seluruh karya dengan kualitas terbaik dihasilkan oleh kelompok kuantitas!

    Tampaknya, ketika kelompok “kuantitas” sibuk mengaduk-aduk gundukan karya mereka – dan belajar dari kesalahan – kelompok “kualitas” hanya duduk berteori mengenai kesempurnaan. Pada akhirnya, mereka tidak dapat menunjukkan hasil upayanya selain teori hebat dan gundukan tanah liat biasa.”

    Cerita ini secara sempurna menggambarkan salah satu prinsip dasar Lean UX: utamakan membuat, bukan menganalisis. Daripada sekadar berdebat kusir mengenai arah yang perlu diambil, fitur yang sesuai, warna yang paling menggambarkan nilai merek Anda, atau kata-kata yang menggaet minat pelanggan Anda, buat saja sesuatu. Buatlah sesuatu yang kecil. Tuliskan di atas kertas. Hal ini memang tidak akan sempurna. Robeklah. Buang dan buat kembali. 

    Hasilnya tidak akan selalu sesuai harapan Anda, namun hal ini dapat menjadi pelajaran bagi Anda. Anda akan menerima umpan balik serta pengetahuan mengenai cara yang lebih baik dalam membangun produk. Pada kesempatan selanjutnya, Anda akan bekerja dengan lebih baik. Anda akan memperlihatkan gagasan Anda pada dunia, menjaring umpan balik dari rekan kerja dan pelanggan, serta mendapatkan pengalaman yang mendidik Anda dalam melakukan pekerjaan dengan benar.

  • Berikut 3 cara memulainya:

    1. Menyusun papan cerita (storyboard) — Papan cerita adalah rangkaian “bingkai” yang menggambarkan suatu pengalaman secara berurutan. Melalui proses serta langkah membuat sketsa, Anda akan mulai memahami wujud nyata dari gagasan Anda serta langkah-langkah yang dilakukan. Hal ini pun akan membantu Anda mulai mengidentifikasi kekurangan pemikiran dalam lingkup prakarsa Anda. Papan cerita sering kali dibuat di atas Post-it® Note dengan bolpoin atau pensil, yang memudahkan pembuatan serta penyuntingannya. 

    2. Membuat peta cerita — Serupa dengan papan cerita namun berukuran lebih besar dan memiliki cakupan yang lebih terperinci. Sebuah peta cerita mengambil seluruh alur kerja proyek yang tengah Anda kerjakan dan menjelaskan setiap langkah yang diambil di atas Post-it® Note. Peta cerita kemudian dibeberkan secara berurutan dari kiri ke kanan. Seiring pengambilan langkah, jumlah Post-it® Note semakin ditambah untuk mendekonstruksi langkah tersebut menjadi fitur nyata yang dibutuhkan sistem guna menyokong kegiatan tersebut. Setelah selesai, visualisasi besar yang tergantung di dinding ini dapat digunakan untuk menentukan lingkup awal yang diperlukan. 

    3. Buat purwarupa dari kertas — Pengalaman yang tengah Anda buat sering kali memiliki satu atau dua bagian alur kerja yang penting. Pertimbangkan untuk mengambil salah satu bagian penting tersebut dan buat sketsa untuk memperkirakan wujudnya dalam tingkat taktis (buat sketsa antarmuka jika Anda tengah membangun perangkat lunak). Saya menyarankan Anda memajang purwarupa kertas tersebut di hadapan khalayak target, serta menuntun mereka untuk mengenalnya lebih dekat. Anda tidak akan menguji kegunaan purwarupa tersebut. Alih-alih demikian, Anda akan memperoleh informasi mengenai nilai gagasan Anda. Apabila gagasan tersebut bernilai, Anda dapat terus mengasah gagasan tersebut. Apabila tidak, gagasan tersebut lebih baik disimpan, serta pilih gagasan lain.

  • Sebuah gagasan setara dengan satu vas keramik. Berapa banyak vas yang akan Anda buat minggu ini?


  • Jeff Gothelf

    eff Gothelf adalah ahli pemikiran Lean UX yang menyiarkan khotbah mengenai kerja sama tim yang hebat, inovasi produk, serta pengambilan keputusan berdasarkan bukti yang ada. Bersama Josh Seiden, dirinya juga mengarang “Lean UX: Applying Lean Principles to Improve User Experience” dan “Sense and Respond” (sensingbook.com) yang akan segera dirilis

kolaborasi design ide-ide super_sticky_notes

TAGS


    FAQs Call Us: (021) 2997 4000 Call Us: (021) 2997 4000
    Follow Post-it® Brand
    Post-it Brand is a trademark of 3M.
    Change Location
    Indonesia - Bahasa Indonesia